Alamat

Kantor LPPM, Gedung Rektorat Lt. 3

Telp./WA

08989700500

Email

lppm@uinmadura.ac.id

Progres Transliterasi Terjemah Al-Qur'an Berbahasa Madura ke Aksara Carakan Madura Juz 11–20: Tonggak Penting Pelestarian Warisan Literasi Madura

  • Diposting Oleh Admin Web LPPM
  • Senin, 20 Juli 2026
  • Dilihat 50 Kali
Bagikan ke

 Oleh: Tim Yayasan Pakem Maddhu

Di tengah arus globalisasi yang semakin menguat, bahasa dan aksara daerah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pergeseran budaya baca, dominasi media digital berbahasa nasional maupun asing, serta semakin berkurangnya generasi yang mampu membaca aksara tradisional menjadi kenyataan yang harus dihadapi bersama. Dalam konteks tersebut, upaya pelestarian aksara Carakan Madura tidak lagi cukup dilakukan melalui wacana akademik, melainkan memerlukan kerja nyata yang berkelanjutan. Salah satu ikhtiar tersebut diwujudkan melalui program Transliterasi Terjemah Al-Qur'an Berbahasa Madura ke Tulisan Aksara Carakan Madura yang dilaksanakan oleh Tim Penelitian Publikasi dari Yayasan Pakem Maddhu.

Progres capaian hingga pertengahan tahun 2026, tim transliterasi telah mencapai 85% penyelesaian untuk penelitian publikasi transliterasi Juz 11 sampai dengan Juz 20. Capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, tetapi menjadi indikator bahwa revitalisasi aksara Carakan Madura dapat diwujudkan melalui kerja kolaboratif, disiplin akademik, dan komitmen terhadap pelestarian warisan intelektual masyarakat Madura.

Pekerjaan transliterasi bukanlah proses sederhana yang hanya memindahkan huruf Latin ke dalam bentuk aksara Carakan. Setiap halaman memerlukan ketelitian tinggi agar makna terjemahan tetap utuh, struktur kebahasaan Madura tetap terjaga, dan kaidah penulisan Carakan Madura diterapkan secara konsisten. Oleh karena itu, setiap bagian yang telah diselesaikan melewati beberapa tahapan, mulai dari transliterasi awal, pemeriksaan kesesuaian ejaan, penyuntingan, verifikasi antartim, hingga pembacaan ulang untuk memastikan tidak terdapat kesalahan penulisan.

Keberhasilan menyelesaikan 85% dari sepuluh juz menunjukkan bahwa metode kerja yang diterapkan Tim Yayasan Pakem Maddhu berjalan secara efektif. Pembagian tugas yang proporsional, diskusi rutin mengenai persoalan kebahasaan, serta evaluasi berkala menjadi faktor penting yang menjaga kualitas hasil transliterasi. Di samping itu, tim juga terus mendokumentasikan berbagai persoalan teknis yang muncul selama proses pengerjaan sebagai bahan penyusunan pedoman transliterasi Carakan Madura yang lebih komprehensif pada masa mendatang.

Lebih jauh, cluster penelitian publikasi ini memiliki nilai strategis yang melampaui aspek teknis penulisan. Transliterasi Al-Qur'an berbahasa Madura ke dalam aksara Carakan merupakan bentuk rekonstruksi memori budaya. Aksara Carakan Madura pernah menjadi media penting dalam tradisi literasi masyarakat Madura, baik dalam penulisan karya sastra, naskah keagamaan, surat-menyurat, maupun berbagai dokumen sosial lainnya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, penggunaannya semakin terbatas sehingga generasi muda memiliki kesempatan yang sangat sedikit untuk mengenalnya secara langsung.

Melalui transliterasi ini, aksara Carakan memperoleh ruang hidup baru dalam konteks yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, yaitu melalui bacaan keagamaan. Pendekatan tersebut menjadi strategi pelestarian yang lebih kontekstual karena menghubungkan warisan budaya dengan kebutuhan spiritual masyarakat. Dengan demikian, aksara Carakan tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai media literasi yang tetap relevan untuk dikembangkan.

Kemajuan yang telah dicapai juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya memerlukan kesabaran dan konsistensi. Menyelesaikan ribuan kalimat, menyesuaikan padanan bunyi, menjaga ketepatan bentuk aksara, serta mempertahankan keterbacaan teks merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Oleh sebab itu, keberhasilan mencapai 85 persen penyelesaian patut diapresiasi sebagai hasil kerja kolektif yang dibangun melalui dedikasi seluruh anggota tim.

Yayasan Pakem Maddhu memandang penelitian publikasi ini sebagai bagian dari gerakan besar revitalisasi literasi Madura. Transliterasi Al-Qur'an hanyalah salah satu tahapan awal menuju pengembangan ekosistem aksara Carakan yang lebih luas. Ke depan, hasil transliterasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi guru bahasa Madura, mahasiswa, peneliti, pegiat budaya, pesantren, maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari kembali aksara daerah. Bahkan, naskah ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam bentuk digital sehingga dapat diakses secara lebih luas oleh masyarakat Madura di berbagai wilayah, termasuk diaspora Madura di luar pulau. Selain itu, capaian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara akademisi (UIN Madura), budayawan, praktisi bahasa, dan komunitas pelestari budaya mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi. Di tengah kekhawatiran akan semakin pudarnya kemampuan membaca aksara tradisional, proyek transliterasi ini menghadirkan optimisme bahwa warisan budaya Madura masih memiliki masa depan apabila dikelola dengan visi yang jelas dan didukung oleh komitmen yang kuat.

Meskipun masih terdapat sekitar 15 persen pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum keseluruhan Juz 11–20 dinyatakan tuntas, Tim Yayasan Pakem Maddhu tetap optimistis target penyelesaian dapat dicapai sesuai rencana. Fokus berikutnya tidak hanya menyelesaikan bagian yang tersisa, tetapi juga memastikan seluruh hasil transliterasi memenuhi standar akademik, linguistik, dan filologis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, keberhasilan mencapai 85% penyelesaian transliterasi ini merupakan kabar baik bagi dunia kebahasaan dan kebudayaan Madura. Ia menunjukkan bahwa pelestarian aksara daerah tidak harus berhenti sebagai nostalgia masa lalu, melainkan dapat diwujudkan melalui karya nyata yang memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang. Semoga penyelesaian penelitian dengan cluster publiaksi Juz 11–20 menjadi pijakan penting bagi kelanjutan transliterasi juz-juz berikutnya hingga seluruh Terjemah Al-Qur'an Berbahasa Madura dapat hadir secara utuh dalam tulisan Aksara Carakan Madura. Dengan demikian, warisan literasi Madura akan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya yang membanggakan.