Paradoks Dana dan Dedikasi: Catatan kecil Perjalanan Riset MORA di UIN Madura
- Diposting Oleh Admin Web LPPM
- Rabu, 1 Juli 2026
- Dilihat 37 Kali
Paradoks Dana dan Dedikasi: Catatan kecil Perjalanan Riset MORA di UIN Madura
Dr. H. Ismail Makki, M.Psi
Tahun ini, atmosfer akademik di kampus tercinta, UIN Madura, terasa sangat berbeda dan begitu positif. Sebagai seorang peneliti, saya ikut merasakan gelombang semangat ini ketika memutuskan untuk mengajukan proposal riset MORA. Ada sebuah fenomena luar biasa yang terjadi tahun ini: animo peneliti melonjak drastis hingga lebih dari 800% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebuah lompatan yang membuat saya secara pribadi merasa bangga sekaligus penasaran.
Namun, di balik antusiasme tersebut, perjalanan mengajukan proposal tidaklah selalu mulus. Dua hari yang lalu, saya dihadapkan pada tantangan teknis yang cukup menguras energi. Saya harus mengunggah proposal melalui aplikasi e-Rispro LPDP, sebuah platform yang relatif baru bagi saya. Sistem ini sangat detail dan kaku (rigid). Meskipun saya sudah berusaha mempelajari petunjuk teknisnya dan mencari panduan tutorial dari YouTube, tetap saja ada beberapa bagian (item) di dalam e-respro yang sulit untuk saya lengkapi sendirian.
Merasa menemui jalan buntu, saya akhirnya menghubungi Pak Syukron selaku Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit) dan Pak Agik Dari komunikasi tersebut, saya memutuskan untuk datang langsung berkonsultasi ke kantor LPPM.
Di sinilah kejutan manis itu terjadi. Begitu menginjakkan kaki di kantor LPPM, saya langsung disambut dengan semangat melayani yang sungguh-sungguh tulus. Birokrasi yang biasanya kaku seolah luruh oleh dedikasi teman-teman LPPM. Urusan administrasi yang sering menjadi momok bagi peneliti ternyata bisa diselesaikan dengan sangat elegan. Ketika saya membutuhkan tanda tangan rekomendasi, saya cukup menyerahkannya kepada Pak Habi. Hebatnya, tidak butuh waktu lama, surat tersebut sudah kembali ke tangan saya dalam keadaan lengkap dengan tanda tangan Ketua LPPM dan Bapak Rektor.
Proses pengunggahan (*submit*) proposal yang rumit pun perlahan terurai. Selama hampir dua hari penuh saya berada di kantor LPPM, Pak Agik dengan penuh kesabaran membimbing saya tahap demi tahap untuk menuntaskan proses di e-Rispro yang sangat detail tersebut.
Di sela-sela proses itu, saya sempat berdiskusi dengan Prof. Erie, selaku Ketua LPPM. Saya bertanya kepada beliau, Berapa jumlah pendaftar riset tahun kemarin, Prof? Jawaban beliau sungguh membuat saya terhenyak. Dua orang,jawabnya singkat.
Alhamdulillah, tahun ini terjadi peningkatan yang sangat masif, bahkan menyentuh angka lonjakan di atas 800%. Di sinilah letak ironi sekaligus paradoks yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut: Dari sisi finansial, pagu dana riset sebenarnya mengalami penurunan dari Rp 1,5 Miliar menjadi Rp 500 Juta untuk kluster sosial humaniora Namun, minat dosen justru meroket tajam.
Fenomena ini membuktikan satu hal penting: uang bukanlah satu-satunya motivasi bagi seorang pendidik dan peneliti. Ada faktor ekosistem yang sehat, pelayanan prima, dan dukungan moral yang jauh lebih bernilai. Peningkatan animo ini adalah buah dari pelayanan LPPM yang transformatif dan suportif.
Melalui catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga. Terutama kepada Bapak Rektor, karena atmosfer positif ini tak lepas dari dukungan dan visi besar beliau yang selalu menginginkan kemajuan bagi UIN Madura tercinta. Ucapan terima kasih yang sama juga saya haturkan untuk Prof. Eri, Pak Syukron, Pak Agik, Pak Habi dan Bu Robi, dan seluruh tim hebat di LPPM UIN Madura. Dedikasi kalian adalah bahan bakar utama bagi kemajuan riset di kampus kita. Semoga langkah kita tahun ini menjadi lompatan besar bagi kejayaan UIN Madura di masa depan. []