JEJAK MENYALA MOH. MASHUR ABADI
- Diposting Oleh Admin Web LPPM
- Jumat, 3 Juli 2026
- Dilihat 77 Kali
KIAI MASHUR…
---Dr. Syukron Affani, M.S.I
Kapuslit LPPM UIN Madura
Perawakannya tinggi dan besar, apalagi kala memelihara janggot dan kumis: sangar. Lagak tubuhnya gagah, lugas, gegas, dan bebas. Suaranya nyaring dan tawanya sering meledak. Jarang sekali asap tembakau senyap ke sekelilingnya. "Sengko' areya oreng Mapala." Mapala ini kependekan dari mahasiswa pecinta alam yang gemar mendaki gunung dan menikmati alam bebas. Tidak heran mendiang itu hangat, terbuka, humoris, dan berasap.
Saat ia serius dengan satu isu, dan menemukan teman berbincang yang juga serius, mendiang menjadi dominan dan determinan. Kala demikian, sesungguhnya tidak banyak yang siap dan jenak berada di dekatnya atau sanggup berlama-lama mendengarnya karena pikirannya bertalu-talu, menukik, menanjak, dan melesat. Curam dan meliuk. Tentang bambu, tentang kemaritiman Madura, tentang perubahan iklim dan kerusakan alam, tentang reintegrasi keilmuan Islam, tentang politik dan isu peradaban Islam, tentang Roy Casagranda, tentang siapa saja yang membongkar dominasi dan menyuarakan kegelisahan kemanusiaan, tentang Al-Quran; tentang semua isu kebudayaan. Sekian-sekiannya filosofis daripada informatif.
Seperti gudang penyimpanan, mendiang memiliki semua barang dan bahan. Pikiran dan pemikirannya tidak rapi karena berdiri di atas pengetahuannya yang luas yang ke mana-mana dan di mana-mana; bertumpuk-tumpuk dan ditumpuk-tumpuk khas kaum cerdik intelektual.
Petualangan keilmuannya di masa muda, dilewatkan dengan menerjemahkan banyak pemikiran progresif. Saat tahun 90 hingga 2000-an, muncul santri-santri mahasiswa yang melalap semangat kiri Islam dan wacana kritis, Pak Mashur termasuk di dalamnya. Bersama Ahmad Zainul Hamdi, Aminoto Sa’doellah, Fawaizul Umam dan lainnya mendirikan Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (èLSAD) menerbitkan GèrbanG Jurnal Studi Agama dan Demokrasi di Surabaya. Tulisan-tulisannya berat dan serius. Kelompok-kelompok diskusi mahasiswa muslim progresif saat itu muncul trendy dengan nama-nama berawalan “al” yang ditulis dan dieja “el” termasuk eLKiS di Yogyakarta.
Namun di usia matangnya, menulis bukan kesabaran Pak Mashur. Menulis menghambat pikirannya yang mengalir deras bak serpihan wahyu yang bocor dari atap langit-Nya sehingga berkali-kali mendiang berseloroh: “Dimma bâdâ nabi nolès?” (“Di mana ada nabi menulis?” Maksudnya: nabi hanya menyampaikan wahyu). “Yang menulis itu ya sahabat. Tugas kamu itu. Tetapi kamu kayaknya masih tabi’in, wkwkwk!” Tawanya meledak meledek.
Menulis ditinggalkannya sebagai keterampilan. Sempat menulis serius suatu term of reference (ToR) suatu naskah penelitian untuk saya lengkapi tetapi SPOKnya (subjek, predikat, objek, dan keterangan) kacau balau. Tetap menulis tetapi di media sosial seperti Facebook. Tulisan yang padat dan mampat. Masih menulis dan menerbitkan buku, tetapi jelas bukan gaya sintaktiknya. Ia memilih kepercayaan bila tugas orang besar adalah sounding gagasan. Orang lain yang menuliskan dan menerjemahkannya.
Pak Mashur sangat islamis (cenderung menganut islamisme) dalam konteks diskursus politik Islam tetapi hāliyah beragamanya, longgar. Spritualis dan tidak terlalu religius; substansialis daripada ritualis. Saya pribadi intens mengenal mendiang saat diajak dalam tim program penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Madura. Mendiang mengawal program tersebut bukan karena penguasaan teknisnya memadai tentang diksi-diksi Madura tetapi karena modal kekuatan filsafat bahasanya; hermeneutiknya. Ia bagaikan komentator bola yang mengetahui lebih baik dan lebih jitu permainan bola dari Messi sekalipun. Di levelnya, pengetahuannya yang tidak berguna sekalipun dibutuhkan untuk menemukan hal-hal berguna dalam proses membangun jiwa al-Quran dalam susunan terjemah bahasa Madura. Untuk diksi bahasa Madura, Pak Mashur mengandalkan Pak Zainol Hasan dan Pak Hafid.
Lanjut kemudian saya diajak beliau sebagai ketua dalam proyek filologi manuskrip Bahjah al-Ulum karya Abu Laits al-Samarqandi (Asmorokondi). Sepertinya beliau sengaja memberi saya pengalaman memasuki sendiri bagaimana salah satu basis referensi dunia pesantren dibangun dan hidup di masa lalu itu. Setelah itu saya dilibatkan dalam kegiatan pemetaan kajian-kajian kemaduraan LPPM IAIN Madura berbasis riset lapangan: ke Camplong, ke Ketapang Sampang, ke Sumber Gayam Sampang (tempat konflik Sunni dan Syiah).
Setelah sempat menjauh karena studi doktor, pada tahun 2023 saya diajak lagi merumuskan integrasi pendidikan melalui suatu proyek penelitian ke Malaysia. Saya dipaksa menerjemahkan kegelisahannya romantiknya tentang posisi keilmuan dan peradaban Islam yang saat ini masih tambal sulam.
Beliau “terhibur” saat saya menyampaikan bahwa integrasi keilmuan Islam ada pada sosok Kiai Mashur yang mutafannin (multi keilmuan) dan ekstensif sebagaimana ulama-ulama dahulu (al-`allamah karena lintas kepakaran berbagai bidang keilmuan); bukan yang mutafaqqih (monodisiplin ilmu) yang intensif seperti model keilmuan profesor-profesor saat ini. Saya bilang: “Pak Mashur tidak cocok jadi profesor karena administrasi kepakaran njenengan acok-racok (bermacam-macam).” Beliau mengawang. “Ghâbây apa kèya…(buat apa juga)” tukasnya dengan nada bahasa Madura yang medok Jawa.
Awal tahun saya diajak menyusun naskah penyusunan konsep atau naskah akademik filosofi Tanèyan Lanjhâng untuk UIN Madura. Sebenarnya saya keberatan karena tanggung jawabnya besar. Saya tunggang langgang menerjemahkan ide-ide besar Pak Mashur dan ide-ide istilah beken Pak Rektor Saiful Hadi (Asta Helix, heutagogi, ethnolearning dan lain-lain) dalam “kosmologi” Tanèyan Lanjhâng sebagai falsafah keilmuan UIN Madura. Apalagi saat Pak Mashur dan Pak Saiful terkadang saling sanggah, saya yang berkunang-kunang.
Selesai menuntaskan naskah akademik tersebut mendiang mengajak “berkelana” ke Maroko, India, Cina dan entah ke mana dalam suatu program penelitian tetapi saya yang udik ini menolak. Jiwa antropolog Pak Mashur memang menggemari petualangan gagasan dan terutama suka perjalanan melancong ala Ibnu Batutah yang rajin singgah ke mana-mana.
Terakhir sekali diajak bersua sebagai nara sumber dengan almarhum pada akhir November 2025 dalam acara seminar pelestarian syiir Madura yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur Kementerian Kebudayaan RI di Hotel Odaita Pamekasan. Saya baru menyadari kondisi Pak Mashur kala itu sudah tidak baik-baik saja. Letupan ekspresinya sudah tidak sekuat biasanya. Saat ngobrol ringan seusai acara, beliau lebih banyak diam lebih dari biasanya.
Tak terasa saya telah dijadikan santrinya padahal santri ini gemar mendebat kiainya. Pak Mashur senang sekali saat saya mengguruinya. Mungkin ini menjadi momennya untuk menerima tua atau justru menjadi momen untuk meledek saya sebagai tabi’in yang hampir naik level sahabat tetapi tak cukup pantas. Saya puas berkali-kali mengganggu kemapanan narasi pengetahuan beliau, misal tentang fragmen sejarah al-Quran dan sejarah Rasulullah, persis, sebagaimana beliau senang terkekeh-kekeh menyebut saya seorang revisionist yang harus segera bertaubat.
Seringkali saya, si pengganggu yang hanya menjadi dosen biasa, karena lama tidak bersua, dicari untuk berbincang ringan menemani beliau (yang acap sibuk dengan ritme tugas pejabat kampus) untuk merawat vitalitas mesin idenya yang rumit. Rasanya tidak sedikit orang yang “dipaksa” mendengar kampanye-kampanye dari mesin pemikirannya itu. Saya pribadi acap menimpali, “Saya ndak paham konteks ide, Njenengan.” Demikian perdebatan akan dimulai. Beliau senang didebat.
Saat terakhir menjenguk sekira akhir April, ia memesan nasi padang melalui staf LPPM UIN Madura. Sayang sekali, rasa nasi padangnya bukan yang ia harapkan. Pak Mashur minta dikirimi lagi jenis rasa nasi padang yang cocok di seleranya (sepertinya nasi padang di sebelah pom bensin Panempan). Ketika itu jelas sekali fisiknya yang sakit tampak semakin lemah dan lelah. Mendiang menolak sakit berhubungan dengan kematian. Sakit itu berhubungan dengan sehat.
Beliau mendekap erat harapan dapat kembali ke kampus; berjumpa dengan kolega-koleganya. Dengan sebatang rokok yang sesekali dihisapnya dengan lemah, beliau mencoba tetap ceria. Tetapi beliau menyadari waktu tampaknya telah berkemas-kemas.
Pak Mashur, bangga hidup di Madura lebih dari 30 tahun. Pengetahuannya tentang Madura atau tepatnya tentang antropologi dan etnografi memang luas. Ia tidak senang kalau kemaduraannya diragukan. Ia mencintai Madura. Ia akan menyergah dengan tegas, “Madura bukan cuilan kebudayaan Jawa. Madura adalah Madura itu sendiri.” Tetapi bahasa Maduranya memang masih susah payah dan medok Jawa. Tidak apa-apa. Engkau tetap gagah senior dan guruku.
Al-Baqa’ lillah. Selamat jalan… Innā insya Allah bika min al-lahiqīn. (*)